Selasa, 09 Juni 2020

DINASTI UMAYYAH PELOPOR KEMAJUAN PERADABAN ISLAM



A.     SEJARAH KHALIFAH DINASTI UMAYYAH

Sejarah berdirinya Dinasti Umayyah berasal dari nama Umayyah bin ‘Abdul Syams bin Abdul Manaf, yaitu salah seorang dari pemimpin kabilah Quraisy pada zaman jahiliyah. Bani Umayyah maru masuk Islam pada Fathul Makah. Memasuki tahun ke 40 H/660 M, Pertikaian politik terjadi dikalangan umat Islam, puncaknya adalah ketika terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. Setelah Khalifah terbunuh, umat Islam di wilayah Iraq mengangkat al-Hasan putra tertua Ali sebagai Khalifah yang sah. Sementara itu Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagi gubernur propinsi Suriah (Damaskus) juga menobatkan dirinya sebagai Khalifah. Namun karena Hasan ternyata lemah sementara Mu’awiyah bin Abi Sufyan bertambah kuat, maka Hasan bin Ali menyerahkan pemerintahannya kepada Mu’awiyyah bin Abi Sufyan.
Mu’awiyah merupakan pendiri dinasti Bani Umayyah. Karier politik Mu’awiyah mulai meningkat pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, setelah kematian Yazid bin Abi Sufyan pada peperangan Yrmuk, Mu’awiyah diangkat menjadi kepala di sebuah kota di Syria. Karena sukses memimpinya, menjadi gubernur Syria oleh Khalifah Umar. Mu’awiyah selama menjabat sebagai gubernur Syria, giat melancarkan perluasan wilayah kekuasaan Islam sampai perbatasan wilayah kekuasaan Bizantine. Pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib, mu’awiyah terlibat konflik dengan Khalifah Ali untukmempertahankan kedudukannya sebagai gubernur Syria. Sejak saat itu Mu’awiyah mulai berambisi untuk menjadi Khalifah dengan mendirikan dinasti Umayyah. Setelah menurunkan Hasan Ibn Ali, Mu’awiyah menjadi penguasa seluruh imperium Islam,dan menaklukan Afrika Utara merupakan peristiwa penting dan bersejarah selama masa kekuasaannya.

B.     SISTEM PEMERINTAHAN BANI UMAYYAH

Muawiyah bin Abi Sufyan menjadi Khalifah pertama dinasti Bani Umayyah setelah Hasan bin Ali bin Abu Thalib menyerahkan keKhalifahannya kepada Muawiyah. Sebelumnya, Muawiyah menjabat sebagai gubernur Syiria. Selama berkuasa di Syiria, Muawiyah mengandalkan orang-orang Syiria dalam mempeluas batas wilayah Islam. Ia mampu membentuk pasukan Syria menjadi satu kekuatan militer Islam yang terorganisir dan berdisiplin tinggi. ia membangun sebuah Negara yang stabil dan terorganisir. Dalam pengelolaan pemerintahan, Muawiyah mendirikan beberapa departemen yaitu pertama, diwanulkhatam yang fungsinya adalah mencatat semua peraturan yang dikeluarkan oleh Khalifah. Kedua, diwanulbarid yang fungsinya adalah memberi tahu pemerintah pusat tentang perkembangan yang terjadi di semua provinsi.
Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan inilah suksesi kekuasaan bersifat Monarchiheridetis (kepemimpinan secara turun-temurun) mulai diperkenalkan, dimana ketika dia mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia Tterhadap anaknya yaitu Yazid bin Mu’awiyah. Pada 679M Mu’awiyah menunjuk putranya Yazid untuk menjadi penerusnya. Abu Sufyan menerapkan sistem monarki dipengaruhi oleh sistem monarki yang ada di Persia dan Byzantium. Dalam perkembangan selanjutnya setiap khalifah menobatkan seorang anak atau kerabat sukunya yang dipandang sesuai untuk menjadi penerusnya. Sistem yang diterapkan Mu’awiyah mengakhiri bentuk demokrasi. Kekhalifahan menjadi Monarchiheridetis (kerajaan turun temurun), yang di peroleh tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak.

C.     KHALIFAH BANI UMAYYAH

Dinasti Bani Umayyah berkuasa selama 90 tahun dari tahun 41-132 H atau 661-750 M. Selama dinasti Bani Umayyah terdapat empat belas khalifah antara lain:

1. Muawiyah bin Abu Sufyan (41-60 H / 661-680 M)


Nama lengkapnya Mu’awiyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abd Syams bin Abdul Manaf, biasa dipanggil Abu Abdurrahman. Ia masyhur dengan Muawiyah bin Abi Sufyan. Ia lahir di Mekkah tahun 20 sebelum hijrah. Ayahnya adalah Abu Sufyan, dan ibunya adalah Hindun binti Utbah. Ia adalah sosok yang terkenal fasih, penyabar, berwibawa, cerdas, cerdik, badannya tinggi besar, dan kulitnya putih. Dia masuk Islam bersama ayah, ibu dan saudaranya Yazid pada saat pembukaan kota Makkah tahun 8 H. Ia pernah ikut perang Hunain dan ia adalah seorang juru tulis Al-Qur’an. Karir politiknya diawali ketika Umar bin Khattab pernah menugaskan sebagai gubernur Yordania dan pada masa Utsman bin Affan, dia ditugaskan menjadi gubernur Syiria. Muawiyah menjadi Khalifah pada tahun 41 H setelah Hasan bin Ali menyerahkan Khalifah kepadanya.
Muawiyah bin Abi Sufyan mendirikan dinasti Bani Umayyah dan sebagai Khalifah pertama. Ia memindahkan ibukota dari Madinah al-Munawarah ke kota Damaskus dalam wilayah Syiria. Pada masa pemerintahannya, ia melanjutkan perluasan wilayah kekuasaan Islam yang terhenti pada masa Khalifah Usman dan Ali. Disamping itu ia juga mengatur tentara dengan cara baru dengan meniru aturan yang ditetapkan oleh aturan tentara byzantium. membangun administrasi pemerintahan dan juga menetapkan aturan kiriman pos. Muawiyah bin Abu Sufyan menerapkan sistem monarchiheridetis (kepemimpinan secara turun temurun). Ia menunjuk anaknya, Yazid bin Mu’awiyah sebagai penerusnya. Ia mengadopsi dari sistem monarki yang ada di Persia dan byzantium..
Muawiyah bin Abu Sufyan berkuasa selama 20 tahun. Ia meninggal Dunia dalam usia 80 tahun dan dimakamkan di Damaskus di pemakaman Bab Al-Shagier.

2. Yazid bin Muawiyah (60-64 H / 680-683 M)

Nama lengkapnya Yazid bin Mu’awiyah bin Abu Sufyan, ia dilahirkan pada tanggan 23 Juli 645M. Pada masa keKhalifahan ayahnya, beliau menjadi seorang pangglima yang cukup penting. Pada tahun 668 M, Khalifah Muawiyah mengirim pasukan dibawah pimpinan Yazid bin Mu’awiyah untuk melawankekaisaran Byzantium. Yazid mencapai Chalcedon dan mengambil alih kota penting Byzantium, Amorion. Meskipun kota tersebut direbut kembali, pasukan arab kemudian menyerang Chartago dan Sisilia pada tabun 669 M. Pada tahun 670 M, pasukan Arab mencapai Siprus dan mendirikan pertahanan disana untuk menyerang jantung Byzantium. Armada Yazid menaklukkan Smyrna dan kota pesisirlainnya pada tahun 672M.
Khalifah Mu’awiyah wafat pada tanggal 6 Mei 680M. Yazid bin Mu’awiyah menjadi Khalifah selanjutnya. Yazid menjabat Khalifah dalam usia 34 tahun. Pengangkatnyan berdasarkan kebijakan Khalifah Muawiyah menerapkan sistem Monarki. Ketika Yazid naik tahta, sejumlah tokoh dimadinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Ia kemudian mengirim surat kepada Gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya.
Selama berkuasa, Yazid bin Mu’awiyah melanjutkan kebijakan ayahnya dan menggaji banyak orang yang membantunya. Ia memperkuat struktur administrasi Negara dan memperbaiki pertahanan militer Syiria, basis kekuatan Bani Umayyah. Sistem keuangan diperbaiki. Ia mengurangi pajak beberapa kelompok Kristen dan menghapuskan konsesi pajak yang ditanggung orang-orang Samara sebagai hadiah untuk pertolongan yang telah disumbangkan di hari-hari awal penaklukan Arab. Ia juga membayar perhatian berarti pada pertanian dan memperbaiki sistem irigasi di oasis Damaskus. Ia meninggal pada tahun 64 H/683 M dalam usia 38 tahun dan masa pemerintahannya ialah tiga tahun dan enam bulan. Kemudian kekhalifahan turun kepada anaknya, Muawiyah bin Yazid.

3. Muawiyah bin Yazid (64-64 H / 683-683 M)

Muawiyah bin Yazid adalah seorang pemuda yang tampan. Dia disebut juga Abu Abdurrahman, ada juga yang menyabutnya Abu Yazid dan Abu Laila. Beliau anak Yazid yang lemah dan sakit-sakitan,disamping itu dia adalah seorang ahli Kimia pada masa pemerintahan Kakeknya Muawiyah bin Abu Sufyan. Rabiul Awal tahun 64 Hijriah atau berkenaan tahun 683 M.
Muawiyah bin Yazid menjadi khalifah atas dasar wasiat ayahnya pada bulan rabiul awal tahun 64 Hijriah atau berkenaan tahun 683M. Muawiyah bin Yazid diangkat menjadi khalifah pada usia 23 tahun. Ia adalah pemuda yang shalih. Ketika dia diangkat menjadi Khalifah dia sedang menderita sakit. Sakitnya semakin keras, akhirnya dia meninggal dunia. Dia bahkan tidak pernah keluar pintu sejak dia diangkat menjadi Khalifah. Dia belum sempat melakukan apa-apa,dan belum pernah menjadi imam shalat untuk rakyatnya. Ada yang mengatakan bahwa masa keKhalifahannya sekitar 40 hari ada pula yang mengatakan dia menjadi Khalifah selama 2 bulan,ada yang mengatakan juga 3 bulan dan ada juga 6 bulan.

4. Marwan bin Hakam (64-65 H / 684-685 M)

Nama lengkapnya Marwan bin Hakam bin Abul ‘Ash. Ia merupakan khalifah ke empat dinasti bani umayyah.menurut silsilah, dia merupakan cucu dari Abul ‘Ash yang juga merupakan kakek dari Usman bin Affan. Setelah terputusnya keturunan Muawiyyah di kekuasaan Muawiyah bin Yazid maka kursi kekuasaan beralih ke bani marwan setelah keluarga besar Umayyah mengangkatnya sebagai Khalifah. Karena mereka menganggap Marwan bin Hakam adalah orang yang tepat untuk mengendalikan kekuasaan karena pengalamanya. ketika itu kondisi tidak stabil dan banyak terjadi perecahan ditubuh bangsa Arab.
Pada Masa Khalifah Muawiyyah bin Abu Sufyan, Marwan bin Hakam diangkat menjadi gubernur di Madinah. Pada masa inilah, Marwan diserahi jabatan gubernur untuk wilayah Hijaz yang berkedudukan Madinah menyatakan dukungan kepada Abdullah bin Zubair, Marwan melarikan diri ke Damaskus. Pertentangan antara pihak Abdullah bin Zubair dan Marwan bin Hakam mencapai puncaknya pada Perang Marju Rahith yang terjadi pada 65 H. Pada peperangan ini pasukann Abdullah bin Zubair mengalami kekalahan cukup telak. Penduduk wilayah Mesir dan Libya yang semula berpihak padanya, mengangkat baiat atas marwan. Namun, wilayah Hijaz, Irak dan Iran tetap tunduk kepada Abdullah bin Zubair.
Dengan demikian, pada masa itu wilayah Islam terpecah menjadi dua bagian. Daerah Hijaz dan sekitarnya termasuk Makkah dan Madinah tunduk kepada Abdullah bin Zubair. Sedangkan wilayah Syria berada dalam kekuasaan Marwan bin Hakam. Untuk mengukuhkan jabatan keKhalifahannya itu, Marwan bin Hakam yang sudah berusia 63 tahun itu mengawini Ummu Khalid, janda Yazid bin Muawiyah. Perkawinan yang tidak seimbang itu sangat kental aroma politik. Dengan mengawini Ummu Khalid, Marwan bermaksud mengawini Khalid, putra termuda Yazid dari tuntutan khalifah. Marwan bin Hakam meninggal pada usia 63 tahun. Ia hanya menjabat sebagai Khalifah selama 9 bulan 18 hari.

5. Abdul Malik bin Marwan (65-86 H / 685-705 M)

Nama lengkapnya Abdul Malik bin Marwan bin Hakam bin Abul ‘Ash. Ia dilantik sebagai Khalifah setelah kematian ayahnya, pada tahun 685 M. Di bawah kekuasaan Abdul Malik, kerajaan Umayyah mencapai kekuasaan dan kemulian. Ia terpandang sebagai Khalifah yang perkasa dan negarawan yang cakap dan berhasil memulihkan kembali kesatuan Dunia Islam dari para pemberontak. Dalam ekspansi ke Timur ini, Khalifah Abdul Malik bin Marwan melanjutkan peninggalan ayahnya. Ia mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan berhasil menundukkan Balkanabad. Bukhara, Khwarezmia, Ferghana dan Samarkhand.

Tentaranya bahkan sampai ke India dan menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Multan. abdul malik bin marwan mengbah mata uang Byzantium dan Persia  dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab. Khalifah Abdul Malik bin Marwan juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam. Pada masa Abdul Malik bin Marwan, Dinasti bani Umayyah dapat mencapai puncak kejayaannya. Ia meninggal pada tahun 705 M dalam usia yang ke-60 tahun. Ia meninggalkan karya-karya terbesar di dalam sejarah Islam. Masa pemerintahannya berlangsung selama 21 tahun, 8 bulan.

6. Walid bin Abdul Malik (86-96 H / 705-715 M)

Nama lengkapnya Walid bin Abdul Malik bin Marwan bin Hakam bin Abul ‘Ash. Masa pemerintahan Walid bin Malik adalah masa ketentraman, kemakmuran dan ketertiban. Umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya tercatat suatu peristiwa besar, yaitu perluasan wilayah kekuasaan dari Afrika Utara menuju wilayah Barat daya, benua Eropa pada tahun 711 M. Perluasan ke arah barat dipimpin oleh panglima Islam, Thariq bin Ziyad. Setelah Aljazair dan Maroko dapat ditundukan, Tariq bin Ziyad dengan pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Maroko (magrib) dengan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Cordoba, dengan cepatnya dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Seville, Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Cordoba. Kemudian pasukan Islam di bawah pimpinan Musa bin Nushair juga berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Goth, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari zaragoza sampai navarre. Pasukan Islam dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa. Selain melakukan perluasan wilayah kekuasaan Islam, Walid juga melakukan pembangunan besar-besaran selama masa pemerintahannya untuk kemakmuran rakyatnya. Khalifah Walid bin Abdul Malik meninggalkan nama yang sangat harum dalam sejarah Dinasti Bani Umayyah dan merupakan puncak kebesaran Daulah tersebut.

7. Sulaiman bin Abdul Malik (96-99 H / 715-717 M)

Nama lengkapnya Sulaiman bin Abdul Malik bin Marwan bin Hakam bin Ash, panggilanya Abu Ayub. Lahir di Madinah pada tahun 54 H. Ia merupakan saudara dari Walid bin Abdul Malik, khalifah sebelumnya. Dia diangkat sebagai Khalifah pada tahun 96 H pada usia 42 tahun. Menjelang saat terakhir pemerintahannya, ia memanggil gubernur wilayah Hijaz yaitu Umar bin Abdul Azis yang kemudian menjadi penasehatnya dan memegang jabatan Wazir besar.
Ia menunjuk Umar bin Abdul Azis sebagai penerusnya dan Yazid bin Abdul Malik sebagai Khalifah setelah Umar bin Abdul Azis.  masa pemerintahannya berlangsung selama 2 tahun, 8 bulan.

8. Umar bin Abdul-Aziz (99-101 H / 717-720 M)

Nama lengkapnya Umar bin Abdul Azis bin Marwan bin Hakam bin Abdul ‘Ash. Ia merupakan sepupuh khalifah sebelumnya, Sulaeman bin Abdul Malik. Ia menjabat sebagai khalifah pada usia 37 tahun. Ia terkenal adil dan sederhana. Ia
ingin mengembalikan corak pemerintahan seperti zaman Khulafaurrasyidin. Pemerintahan Umar meninggalkan semua kemegahan dunia yang selalu ditunjukkan oleh orang Bani Umayyah.

Meskipun masa pemerintahannya sangat singkat, ia berhasil menjalin hubungan baik dengan Syi’ah. Ia juga memberi kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya. Kedudukan mawali (orang Islam yang bukan dari Arab) disejajarkan dengan Muslim Arab. Pemerintahannya membuka suatu pertanda yang membahagiakan bagi rakyat. Ketakwaan dan kesalehannya patut menjadi teladan. Ia selalu berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Ia meninggal pada tahun 720 M dalam usia 39 tahun, dimakamkan di Deir Simon.

9. Yazid bin Abdul-Malik (101-105 H / 720-724 M)
Nama lengkapnya Yazid bin Abdul Malik bin Marwan bin Hakam bin Abdul ‘Ash. Ia merupakan sepupu khalifah sebelumnya, umar bin abdul azis. Ia menjabat Khalifah kesembilan Daulah Umayyah pada usia 36 tahun. Khalifah yang sering dipanggil dengan sebutan Abu Khalid ini lahir pada 71 H. Ia menjabat khalifah atas wasiat saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik. Ia dilantik pada bulan Rajab 101 H. Ia mewarisi Dinasti Bani Umayyah dalam keadaan aman dan tenteram. Pada
awal masa pemerintahannya Yazid bertindak menuruti kebijakan khalifah Umar bin Abdul Azis sebelumnya, namun tidaak berlangsung lama, setelah itu terjadi perubahan. Karena banyak penasihat yang tidak setuju dengan kebijakan positif yang diterapkan Umar bin Abdul Azi.

Sebelum Yazid meninggal, sempat terjadikonflik antara dirinya dan saudaranya, Hisyam bin Abdul Malik. Namun hubungan keduanya baik kembali setelah Hisyam lebih banyak mendampingi sang khalifah hingga wafat. Ia meninggal dunia pada usia 40 tahun. Masa pemerintahannya hanya berkisar 4 tahun 1 bulan.

10. Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H / 724-743 M)

Nama lengkapnya Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan bin Hakam bin Abul Ash. . Ia menjabat sebagai Khalifah pada usia yang ke 35 tahun. Ia terkenal negarawan yang cakap dan ahli strategi militer. Pada masa pemerintahannya muncul satu kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan ini berasal dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan mawali dan merupakan ancaman yang sangat serius. Dalam perkembangan selanjutnya, kekuatan baru ini mampu menggulingkan Dinasti Umayyah dan menggantikannya dengan Dinasti baru, Bani Abbas.
Pemerintahan Hisyam yang lunak dan jujur menyumbangkan jasa yang banyak untuk pemulihan keamanan dan kemakmuran, tetapi semua kebajikannya tidak bisa membayar kesalahan-kesalahan para pendahulunya, karena gerakan oposisi terlalu kuat, sehingga Khalifah tidak mampu mematahkannya.
Meskipun demikian, pada masa pemerintahan Khalifah Hisyam kebudayaan dan kesusastraan Arab serta lalu lintas dagang mengalami kemajuan. Dua tahun sesudah penaklukan pulau Sisily pada tahun 743 M, ia wafat dalam usia 55 tahun. Masa pemerintahannya berlangsung selama 19 tahun, 9 bulan. Sepeninggal Hisyam, khalifah-Khalifah yang tampil bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini makin mempercepat runtuhnya Daulah Bani Ummayyah.

11. Walid bin Yazid bin Abdul Malik (125-126 H / 743-744 M)

nama lengkapnya Walid bin Yazid bin Abdul Malik, Khalifah kesembilan dinasti Bani Umayyah. Pada masa pemerintahnya, Dinasti Umayyah mengalami kemunduran. Ia memiliki prilaku buruk dan suka melanggar norma agama. Kalangan keluarga sendiri benci padanya. Dan ia mati terbunuh.
Adapun kebijakan yang paling utama yang dilakukan oleh Walid bin Yazid ialah melipatkan bantuan sosial bagi pemeliharaan oang orang buta dan lanjut usia yang tidak mempunyai famili untuk merawatnya. Ia menetapkan anggaran khusus untuk pembiayaan tersebut dan menyediakan perawat untuk masing-masing orang. Masa pemerintahannya berlangsung selama 1 tahun, 2 bulan. Dia wafat dalam usia 40 tahun.

12. Yazid bin Walid bin Abdul Malik (126-127 H/ 744 M)


Nama lengkapnya Yazid bin Walid bin Abdul Malik. Pemerintah Yazid bin Wakidtidak mendapat dukungan dari rakyat, karena kebijakannya suka mengurangi anggaran belanja negara. Masa pemerintahannya tidak stabil dan banyak pemberontakan. Masa pemerintahannya berlangsung selama 16 bulan. Dia wafat dalam usia 46 tahun.

13. Ibrahim bin Walid bin Abdul Malik (127 H / 744 M)

nama lengkapnya Ibrahim bin Walid bin Abdul Malik, Khalifah sebelumnya. Dia diangkat menjadi Khalifah tidak memperoleh suara bulat di dalam lingkungan keluarga Bani Umayyah dan rakyatnya. Kerana itu, keadaan negara semakin kacau dengan munculnya beberapa pemberontak. Ia menggerakkan pasukan besar berkekuatan 80.000 orang dari Arnenia menuju Syiria. Ia dengan suka rela mengundurkan dirinya dari jabatan Khalifah dan mengangkat baiat terhadap Marwan ibn Muhammad. Dia memerintah selama 3 bulan dan wafat pada tahun 132 H.

14. Marwan bin Muhammad (127-133 H / 744-750 M) 

Nama lengkap Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam. Ia adalah cucu dari Khalifah keempat bani Umayyah, Marwan bin Hakam dan keponakan Khalifah kelima, Abdul Malik bin Marwan. Beliau seorang ahli negara yang bijaksana dan seorang pahlawan. Beberapa pemberontak dapat ditumpas, tetapi dia tidak mampu mengahadapi gerakan Bani Abbasiyah dengan pendukung yang kuat. Marwan bin Muhammad melarikan diri ke Hurah, terus ke Damaskus. Namun Abdullah bin Ali yang ditugaskan membunuh Marwan oleh Abbas As Syaffah selalu mengejarnya. akhirnya sampailah Marwan di Mesir. Di Bushair, daerah al Fayyun Mesir, dia mati terbunuh oleh Shalih bin Ali, orang yang menerima penyerahan tugas dari Abdullah. Marwan terbunuh pada tanggal 27 Dzulhijjah 132H/ 5 Agustus 750 M. Dengan demikian berakhirlah dinasti Bani Umayyah, dan kekuasaan selanjutnya dipegang oleh Bani Abbasiyah.

D.     Faktor-Faktor Penyebab Kemunduran Dinasti Umayyah

Kebesaran yang dibangun oleh Daulah Bani Umayyah ternyata tidak dapat menahan kemunduran dinasti yang berkuasa hampir satu abad ini, hal tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor yang kemudian mengantarkan pada titik kehancuran. Diantara fakto-faktor tersebut adalah:
1. Terjadinya pertentangan keras antara kelompok suku Arab Utara (Irak) yang disebut Mudariyah dan suku Arab Selatan (Suriah) Himyariyah, pertentangan antara kedua kelompok tersebut mencapai puncaknya pada masa Dinasti Umayyah karena para Khalifah cenderung berpihak pada satu etnis kelompok.

2. Ketidakpuasan sejumlah pemeluk Islam non Arab. Mereka yang merupakan pendatang baru dari kalangan bangsa-bangsa yang dikalahkan mendapat sebutan “Mawali”, suatu status yang menggambarakan inferioritas di tengah-tengah keangkuhan orang-orang Arab yang mendapat fasilitas dari penguasa Umayyah. Mereka bersama-sama orang Arab mengalami beratnya peperangan dan bahkan di atas rata-rata orang Arab, tetapi harapan mereka untuk mendapatkan tunjangan dan hak-hak bernegara tidak dikabulkan. Seperti tunjangan tahunan yang diberikan kepada Mawali ini jumlahnya jauh lebih kecil dibanding tunjangan yang dibayarkan kepada orang Arab.

3. konflik konflik politik yang melatarbelakangi terbentuknya Daulah Umayyah. Kaum Syi`ah dan Khawarij terus berkembang menjadi gerakan oposisi yang kuat dan sewaktu-waktu dapat mengancam keutuhan kekuasaan Umayyah. Disamping menguatnya kaum Abbasiyah pada masa akhir-akhir kekuasaan Bani Umayyah yang semula tidak berambisi untuk merebut kekuasaan, bahkan dapat menggeser kedudukan Bani Umayyah dalam memimpin umat.

4. Lemahnya pemerintahan Dinasti Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak Khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Di samping itu, para Ulama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.

5. Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Abbas bin Abdul Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan kaum mawali yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.

Minggu, 26 April 2020

PRESTASI KHULAFAURROSIDIN




Prestasi Usman bin Affan
Utsman bin Affan terpilih sebagai Khalifah pengganti Umar bin Khattab.  Khalifah Usman bin Affan dipilih di usia 70 tahun. Beliau menjadi Khalifah selama 12 tahun. Selama itu prestasi yang dicapai Utsman bin Affan : 
1.       Kodifikasi Mushaf Al-Qur’an
 Pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, wilayah Islam sudah sangat luas. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya perbedaan pembelajaran al-Qur’an di beberapa pelosok wilayah . Perbedaan itu meliputi susunan surahnya atau lafal (dialeknya). pihak menganggap cara membaca Al-Qur’an yang dilakukan adalah paling baik.
Salah seorang sahabat bernama Huzaifah bin Yaman melihat perselisihan antara tentara Islam ketika menaklukkan Armenia dan Azerbeijan. Masing- masing pihak menganggap cara membaca Al-Qur’an yang dilakukan adalah yang paling baik.
Perselisihan tersebut dilaporkan oleh Huzaifah bin Yaman kepada Khalifah Utsman bin Affan. selanjutnya Khalifah Utsman bin Affan membentuk sebuah panitia penyusunan Al-Qur’an. Panitia ini di ketuai oleh Zaid bin Tsabit anggotanya Abdullah bin Zubair dan Abdurrahman bin Haris. Tugas yang dilaksanakan adalah menyalin ulang ayat-ayat Al-Qur’an dalam sebuah buku yang disebut mushaf.
Salinan kumpulan Al-Qur’an itu disebut mushaf oleh panitia Mushaf diperbanyak sejumlah empat buah. Salah.  Salah satunya tetap berada di Madinah , sedangkan empat lainya dikirim ke Madinah, Suriah, Basrah, dan Kuffah . Semua naskah Al-Qur’an yang dikirim ke daerah-daerah itu dijadikan pedoman dalam penyalinan berikutnya di daerah masing-masing. Naskah yang ditinggal di Madinah disebut Mushaf Al-Imam atau Mushaf Usmani.
2.       Renovasi Masjid Nabawi
Masjid Nabawi adalah masjid yang pertama kali didirikan oleh Nabi Muhammad Saw. pada saat pertama kali tiba di Madinah dari perjalanan hijrahnya. Masjid ini pada mulanya hanya kecil dan masih sangat sederhana . Dengan semakin banyaknya jumlah umat Islam, maka Khalifah Umar bin Khattab mulai memperluas masjid ini. Masjid Nabawi telah mulai dibangun sejak masa Khalifah Umar bin Khattab yang kemudian dilanjutkan merenovasinya dan diperluas oleh Khalifah Utsman bin Affan. Selain diperluas, masjid Nabawi juga dibangun dengan bentuk dan coraknya yang lebih indah.
3.       Pembentukan Angkatan Laut
Pada masa Khalifah Usman bin Affan, wilayah Islam sudah mencapaiAfrika, Siprus, hingga konstantinopel. Muawiyah saat itu menjabat gubernur Suriah mengusulkan dibentuknya angkatan laut. Usul itu disambut dengan baik oleh Khalifah Usman bin Affan.
4.       Perluasan Wilayah Islam
Serangkaian penaklukan bangsa Arab dimotivasi oleh semangat keagamaan untuk menjadikan dunia memeluk dan mengakui Islam. Pada masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan wilayah Islam semakin meluas.Wilayah perluasan di masa Khalifah Utsman bin Affan :
·         Perluasan ke Khurasan dibawah pimpinan Sa’ad bin Ash dan Huzaifah bin Yaman
·         Perluasan ke Armenia yang dipimpin Salam Rabiah Al Bahly.
·         Afrika Utara (Tunisia) Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sa’ad bin Abi Sarah.
·         Penaklukan Ray dan Azerbeijan yang dipimpin Walid bin Uqbah
Prestasi Ali bin Abi Thalib
Sepeninggal Khalifah Usman bin Affan dalam kondisi yang masih kacau , kaum muslimin meminta Ali bin Abi Thalib untuk menjadi Khalifah  Akan tetapi ada bebarapa tokoh yang menolak usulan tersebut. Khalifah Ali bin Abi Thalib melaksanakan langkah-langkah yang dapat dianggap sebagai prestasi yang telah dicapai .
1.       Mengganti Pejabat yang Kurang Cakap.
Khalifah Ali bin Abi Thalib menginginkan sebuah pemerintahan yang efektif dan efisien. Oleh karena itu, beliau kemudian mengganti pejabat-pejabat yang kurang cakap dalam bekerja. Akan tetapi, pejabat-pejabat tersebut ternyata banyak yang berasal dari keluarga Khalifah Usman bin Affan ( Bani Umayyah ). Akibatnya, makin banyak kalangan Bani Umayyah yang tidak  menyukai Khalifah Ali bin Abi Thalib.
Adapun gubernur baru yang diangkat Khalifah Ali bin Abi Thalib antara lain:
a. Sahl bin Hanif sebagai gubernur Syiria.
b. Utsman bin Hanif sebagai gubernur Basrah.
c. Qays bin Sa’ad sebagai gubernur Mesir.
d. Umrah bin Syihab sebagai gubernur Kuffah.
e. Ubaidaillah bin Abbas sebagai gubernur Yaman.
2.       Membenahi Keuangan Negara ( Baitul Mal ).
Pada Masa Khalifah Utsman bin Affan, banyak kerabatnya yang diberi fasilitas negara. Khalifah Ali bin Abi Thalib memiliki tanggung jawab untuk membereskan permasalahan tersebut. Beliau menyita harta para pejabat tersebut yang diperoleh secara tidak  benar. Harta tersebut kemudian disimpan di Baitul Mal dan digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Kebijakan tersebut mendapat tantangan dan perlawanan dari matan penguasan dan kerabat Utsman bin Affan. Mereka menghasut para Sahabat yang lain untuk menentang kebijakan Ali bin Abi Thalib. Dan melakukan perlawanan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib. Akibatnya terjadi peperangan seperti perang Jamal dan prang Shiffin.
3.       Memajukan Bidang Ilmu Bahasa.
Pada saat Khalifah Ali bin Abi Thalib memegang pemerintahan, wilayah Islam sudah mencapai India. Pada saat itu, penulisan huruf hijaiyah belum dilengkapi dengan tanda baca, seperti kasrah, fattah, dhammah dan syaddah. hal itu menyebabkan banyaknya kesalahan bacaan teks Al-Qur’an dan hadis di daerah yang jauh dari Jazirah Arab.
Untuk menghindari kesalahan fatal dalam bacaan Al-Qur’an dan Hadis. Khalifah Ali bin Abi Thalib memerintahkan Abu Aswad ad-Duali untuk mengembangkan pokok-pokok ilmu Nahwu, yaitu ilmu yang mempelajarai tata bahasa Arab. Keberadaan ilmu Nahwu diharapkan dapat membantu orang-orang non Arab dalam mempelajari sumber utama ajaran Islam, yaitu al-Qur’an dan Hadis.
4.       Bidang Pembangunan
 Khalifah Ali bin Abi Thalib membangun kota Kuffah secara khusus. Pada awalnya kota Kuffah disiapkan sebagai pusat pertahanan oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Akan tetapi  Kota Kuffah kemudian berkembang  menjadi pusat ilmu Tafsir, ilmu Hadis, ilmu Nahwu dan ilmu pengetahuan lainya. Setelah mengamati prestasi keempat Khalifah, terdapat persamaan prestasi pada penyebaran daerah Islam. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
a.       Islam mengajarkan semua sendi kehidupan, baik agama, sosial, politik, ekonomi, dan   budaya.
b.      Kewajiban dakwah bagi pemeluknya merupakan pendorong utama bagi para Sahabat   untuk menyebarkan Islam
c.       Byzantium dan Persia mulai melemah membuat Islam bisa berkembang dengan cepat
d.  Kebebasan beragama bagi masyarakat di Byzantium membuka peluang untuk   mengajarkan agama Islma
e.   Penyebaran Islam dilakukan secara simpatik dengan penuh kedamaian. Kekerasan diperlukan dalam kondisi yang tidak ada pilihan.
f.        Bangsa Arab lebih dekat dengan bangsa-bangsa Jazirah
g.   Mesir, Syiria, dan Irak merupakan daerah kaya yang ingin membebaskan diri dari penjajahan Romawi dan Persia. Sekaligus menjadi penyokong dana dalam menyebarkan Islam



TUGAS (silahkan dikerjakan setelah membaca meteri diatas!) :

1.      Sebutkan prestasi khalifah utsman bin affan !
2.      Sebutkan prestasi khalifah ali bin abi thalib !
3.      Tuliskan wilayah perluasan di masa khalifah utsman bin affan !
4.      Tuliskan alasan mengapa kalangan Bani Umayyah tidak menyukai Khalifah Ali bin Abi Thalib pada masa pemerintahannya ?
5.      Apa yang dilakukan Khalifah Ali bin Abi thalib untuk menghindari kesalahan fatal dalam bacaan Al-Qur’an dan Hadits ?

Minggu, 12 April 2020

PRESTASI KHULAFAURROSIDIN


Prestasi Khalifah Umar bin Khattab


Umar memangku jabatan Khalifah dengan wasiat dari Abu bakar. Dia mulai memangku Khalifah pada bulan Jumadil Akhir tahun 13 H. Selama menjalankan tanggung jawab sebagai Khalifah beberapa prestasi yang telah dicapai oleh Umar bin Khattab diantaranya sebagai berikut:

1.    Perluasan daerah Islam

Usaha perluasan daerah dan pengembangan Islam di Persia dan Syiria yang telah dilakukan pada masa  Khalifah Abu Bakar dan dilanjutkan kembali oleh Khalifah Umar Bin Khattab hingga selesai dan juga perluasan daerah da pengembangan Islam di Mesir. Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab r.a gelombang ekspansi (perluasan dan kekuasaan) pertama terjadi di ibukota Syiria, Damaskus. Kota ini jatuh pada thun 635 M. Dan setahun kemudian setelah tentara Byzantium kalah di pertempuran Yarmuk, seluruh daerah Syiria jatuh di bawah kekuasaan Islam.

Dengan memakai Syiria sebagai basis, ekspansi diteruskan ke Mesir dibaawah pimpinan Amr bin Ash ra. dan ke Irak dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqash ra. Iskandariyah/Alexandria, ibu kota Mesir saat itu ditaklukan tahun 641 M. Dengan demikian, Mesir jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Al-Qadisiyah, sebuah kota dekat Hirah di Iraq, jatuh pada tahun 637 M. dari sana serangan dilanjutkan ke ibu kota Persia, al-Madain yang jatuh pada saat itu juga.

Pada tahun 641 M. Moshul dapat dikuasai. Dengan demikian, pada masa pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab r.a wilayah kekuasaan Islam sudah meliputi seluruh Jazirah Arabia, Palestina, Syiria dan sebagian wilayah Persia dan Mesir.

2.    Mengatur Administrasi dan Keuangan Pemerintahan

Karena perluasaan daerah terjadi sangat cepat, Umar ra. segera mengatur administrasi Negara dengan mencontoh administrasi yang sudah berkembang, terutama di Persia. Administrasi pemerintahan diatur menjadi delapan wilayah provinsi :Makkah, Madinah, Syiria, Jazirah Basrah, Kuffah, Palestina, dan Mesir.

Pada masa pemerintahanya Umar bin Khattab membentuk Baitul Mal dan Dewan Perang. Baitul Mal bertugas mengurusi keuangan negara. Dewan perang bertugas mencatat administrasi ketentaraan. Umar bin Khattab adalah Khalifah pertama kali yang memperkenalkan sistem penggajian bagi pegawai pemerintah.Ia juga memberikan santunan dari Baitul Mal kepada seluruh rakyatnya. Besarnya santunan di sesuaikan lamanya memeluk Islam. pada masa Khalifah Umar bin Khattab, kemakmuran dapat dinikmati rakyat dari seluruh pelosok negeri.

3.    Menetapkan Kalender Hijriah
Sebelum kalender Hijriah ditetapkan orang-orang pada saat itu menggunakan sistem kalender Masehi. Agar berbeda dengan kaum Nasrani Umar ibn Khattab mencetuskan kalender Hijriah, yang ditetapkan mulai pada saat Nabi Muhammad SAW. Hijrah dari Makkah ke Madinah. Hal itu disebabkan hijrah merupakan titik balik kemenangan Islam. Hijrah juga menandai dua priode dakwah Islam, yakni periode Makkah dan Madinah.

Sabtu, 04 April 2020

PRESTASI KHULAFAURROSIDIN


PRESTASI KHULAFAURROSIDIN

Amatilah gambar berikut, kemudian berikan tanggapanmu !





A.     Prestasi Khalifah Abu Bakar
Khalifah Abu Bakar ash Shidiq memimpin ummat Islam selama 2 tahun. Walaupun waktu yang singkat sebagai pengganti Nabi dalam kepemimpinan agama dan pemerintahan, Khalifah Abu Bakar melakukan beberapa kebijakan dalam rangka mengembangkan islam. Beberapa tindakan khalifah abu bakar, antara lain :
1.      Memerangi Kelompok Pembangkang
Ada sekelompok orang di Madinah menyatakan keluar dari Islam, mereka kembali memeluk agama dan tradisi lama, yaki menyembah berhala. Suku-suku tersebut menyatakan bahwa hanya emiliki perjanjian dengan Nabi Muhammad SAW, beberapa pemberontak antara lain :
·         Al-Aswad al-Ansi
Al-Aswad al Ansi memimpin pasukan suku badui di Yaman. Mereka berhasil merebut Najran dan San’a akan tetapi AL-Aswad al-Ansi terbunuh oleh saudara gubernur Yaman. Ketika Zubair bin Awwam datang di Yaman AL-Ansi telah terbunuh. Pasukan Islam berhasil menguasai Yaman
·         Musailamah Al-Kazab
Musailamah Al-Kazab mengaku dirinya sebagai Nabi. Ia didukung oleh Bani Hanifah di Yamamah. Ia mengawini Sajah yang mengaku sebaga Nabi di kalanga Kristen. Mereka berhasil menyusun pasukan dengan kekuatan 40.000 orang. Khalifah Abu Bakar ash Siddiq mengirimkan Ikrimah bin Abu Jahal dan Syurahbil bin Hasanah. Pada mulanya pasukan Islam terdesak. Akan tetapi, pasukan bantuan mereka datang dipimpin Khalid bin Walid. Pasukan Musailamah berhasil dikalahkan 10.000 orang kaum murtad mati terbunuh. Ribuan kaum muslimin gugur dalam perang ini, termasuk pengahafal Al-Qur’an. Perang ini dinamakan perang Yamamah dan merupakan yan paling besar diantara perang melawan kaum murtad lainnya.
·         Thulaihah bin Khualid al-Asad
Thulaihah menganggap dirinya sebagai Nabi. Pengikutnya berasal dari Bani Asad, Gatafan, dan Bani Amir. Abu Bakar ash Siddiq mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Pertempuran terjadi di dekt smur Buzakhah. Pasukan muslim berhasil mengalahkan mereka.
                   Ada beberapa sebab mereka murtad, antara lain :
  •  Iri dan dengki terhadap perkembangan kota Madinah
  •  Fanatisme rasa kesukua dan sifat patenalistik, yaitu tunduk secara membabi buta kepada pemimpinnya
  • Takut kedudukan menghilang karna Islam membawa perubahan di bidang politik, social, budaya dan agama
  • Banyak suku Arab masuk Islam karna pertimbangan politik
  • Mereka baru masuk islam dan belum menghayati Islam

2.      Kodifikasi Al-Qur’an
Ketika ummat Islam kehilangan lebih dai 70 orang penghafal Al-Qur’an, Umar khawatir akan kehilangan Al-Qur’an, lalu mengusulka kepada Abu Bakar agar ada usaha pengumpulan Al-Qur’an yang dijadikan satu mushaf. Usaha pengumpulan Al-Qur’an itu dipimpin oleh Zaid bin Tsabit.
Setelah selesai, Mushaf disimpan di rumah Abu Bakar, dan setelah Abu Bakar meninggal mushaf tersebut disimpan oleh Hafsah binti Umar, putri Umar bin Khattab dan salah seorang istri dari Rasulullah SAW.

3.      Perluasan Wilayah Islam
Kekaisaran Byzantium dijadikan kota damaskus, Syria sebagai pusat pemerintahan d wilayah Arab dan sekitarnya. Untuk menghadapi mereka Khalifah bu Bakar ash Siddiq mengirimkan beberapa pasukan yaitu :
Ø  Pasukan Yazid bin Abu Sufyan ke Damaskus
Ø  Pasukan Syurahbil bin Hasanah ke Yordania
Ø  Pasukan Abu Ubaidah bin Jarrah ke Hims.



sumber : Sejarah Kebudayaan Islam/Kementrian Agama,-Jakarta : Kementrian Agama 2014